Madame Aurelia: Jejak yang Tertinggal
Tanda-Tanda Baru
Sejak malam aku memutuskan untuk tidak membuka https://www.lynnmillerpsychic.com/ pintu, hidupku terasa kembali normal… setidaknya untuk sementara. Tidak ada lagi ketukan misterius, tidak ada mimpi aneh, dan tidak ada bayangan Aurelia di jalan. Namun, satu hal yang membuatku gelisah: di setiap pagi setelah hujan, aku selalu menemukan bunga melati segar di depan pintu rumahku.
Awalnya kupikir itu hanya ulah tetangga yang iseng, tapi semakin lama aku sadar, melati itu bukan sembarang bunga. Aromanya persis seperti wangi di ruangan Madame Aurelia saat pertama kali aku menemuinya. Dan anehnya, bunga itu selalu muncul hanya pada tanggal-tanggal tertentu yang tidak bisa kutebak polanya.
Bertemu Orang Yang Mengenalnya
Rasa penasaran membawaku ke pasar tua di pusat kota, tempat orang-orang berkumpul untuk menjual barang antik. Di sana, aku melihat seorang pria tua menjual setumpuk kartu tarot dengan desain yang sama seperti milik Aurelia. Saat aku bertanya, matanya langsung menyipit.
“Kau mengenal Aurelia?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan.
Pria itu tersenyum getir. “Dia pernah menjadi muridku. Tapi dia memilih jalan sendiri, jalan yang… berbahaya. Kemampuannya terlalu kuat untuk sekadar digunakan sebagai permainan nasib.”
Ia bercerita bahwa Aurelia memiliki kemampuan unik: melihat lebih dari sekadar masa depan, ia bisa merasakan ‘titik patah’ dalam hidup seseorang—momen yang jika diubah, bisa mengubah seluruh jalannya takdir. Tapi setiap kali ia membantu seseorang melewati titik itu, Aurelia harus membayar harga… sebagian hidupnya sendiri.
Rahasia Di Balik Melati
Pria tua itu memberitahuku bahwa bunga melati yang kutemukan bukan sekadar simbol. Melati, menurut tradisi kuno yang dipelajari Aurelia, adalah penanda bahwa seseorang telah “dipagari” dari ancaman yang ia lihat dalam ramalannya. Artinya, setiap kali bunga itu muncul, Aurelia telah bekerja di balik layar untuk menahanku dari sebuah bahaya—meski aku sendiri tidak menyadarinya.
Pertanyaan yang langsung muncul di kepalaku: kalau dia melindungiku, lalu apa yang terjadi padanya?
Pencarian Yang Mengarah ke Hutan
Informasi itu membuatku ingin menemukan Aurelia lebih dari sebelumnya. Pria tua itu hanya memberikan satu petunjuk: “Jika kau ingin menemukannya, pergilah ke hutan utara saat bulan purnama. Dia akan menunggumu di sana.”
Malam bulan purnama, aku memberanikan diri pergi. Jalan setapak menuju hutan terasa panjang dan sunyi. Angin dingin menampar wajahku, dan suara burung hantu terdengar dari kejauhan. Di tengah hutan, aku melihat cahaya redup dari sebuah lampu minyak. Di sanalah aku menemukannya—duduk di bawah pohon besar, mengenakan mantel hitam yang basah oleh embun malam.
Percakapan Terakhir
Aurelia menatapku lama sebelum akhirnya berbicara. “Kau datang.”
“Aku harus. Aku ingin tahu kenapa kau melindungiku,” jawabku.
Ia tersenyum tipis. “Karena kau memiliki sesuatu yang harus dijaga. Ramalan terakhirku memang tentangmu. Tapi bukan soal kematianmu, melainkan tentang peranmu di masa depan. Ada hal besar yang akan kau lakukan—sesuatu yang akan menyelamatkan banyak orang. Jika kau mati di titik itu, semuanya akan hilang.”
Aku terdiam, mencoba mencerna kata-katanya. “Tapi kenapa kau harus bersembunyi?”
“Karena setiap kali aku mengubah takdir orang, keseimbangan dunia bergeser. Dan selalu ada pihak yang tidak menginginkan itu terjadi.”
Bayangan Yang Mengintai
Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki terdengar mendekat dari kegelapan hutan. Aurelia langsung berdiri, memegang tanganku. “Kau harus pergi sekarang. Mereka datang untukku.”
Aku menoleh, tapi hanya melihat bayangan hitam bergerak cepat di antara pepohonan. Jantungku berdegup kencang. Aurelia mendorongku ke arah jalan keluar hutan. “Jangan menoleh. Jangan berhenti. Kalau kau selamat malam ini, kita akan bertemu lagi saat waktunya tepat.”
Aku menuruti ucapannya, berlari tanpa melihat ke belakang. Suara langkah-langkah itu semakin jauh, digantikan oleh senyap malam yang menakutkan. Saat aku sampai di tepi hutan, cahaya lampu minyak yang tadi kulihat sudah padam.
Kehilangan Dan Penantian
Keesokan harinya, aku kembali ke tempat itu. Tidak ada tanda-tanda Aurelia, tidak ada jejak kaki, hanya setangkai melati yang tergeletak di tanah, masih segar seolah baru dipetik. Aku mengambilnya, menyimpannya di dalam buku catatan sebagai pengingat bahwa ia pernah ada, dan mungkin masih ada di luar sana.
Sejak malam itu, bunga melati tidak lagi muncul di depan pintu rumahku. Rasanya seperti kehilangan pelindung yang diam-diam selalu ada. Tapi di sisi lain, aku tahu Aurelia telah memberiku sesuatu yang lebih berharga: keyakinan bahwa masa depan bisa dibentuk oleh keberanian, bukan ketakutan.
Penutup
Kadang, di malam hujan, aku masih membayangkan ketukan di pintu dan sosok Aurelia di baliknya. Bedanya, sekarang aku tidak lagi merasa terancam. Aku merasa siap—karena aku tahu, jika waktu itu tiba, aku akan membuat pilihan yang benar.
Dan entah di mana pun ia berada, aku percaya Madame Aurelia masih melihat… menunggu saat yang tepat untuk kembali.